Generasi Muda Indonesia Wajib Dicontoh Koruptor

Di jaman yang ramai dengan korupsi ini, sangatlah beruntung Indonesia karena masih memiliki generasi penerus bangsa yang kreatif dan sukses dalam berwirausaha.

Airplane Systm

Fiki Satari, pendiri Airplane Systm.

Fiki Satari, pria asal Bandung merupakan salah satu generasi muda yang sukses dalam berwirausaha. Fiki memulai bisnis clothing yang deberi nama Airplane Systm pada tahun 1998 dan sampai sekarang berhasil memasarkan produk-produk yang beragam antara lain kaus, jeans, sepatu dan tas.

Dengan bertumbuhnya jumlah pemilik clothing, factory outlet dan mal yang menjual berbagai macam produk bermerek luar negeri, persaingan yang ketat merupakan hal yang pasti. Agar bisa survive, pria lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Padjadjaran ini pun akhirnya berinovasi dalam desain produk dan cara pemasaran.

Untuk desain produk, Fiki menerapkan apa yang ada di dunia mode, yaitu tren berdasarkan musim yang dimulainya pada tahun 2007. Dia membagi setiap tahun ke dalam tiga musim dan tiap musim diberi tema yang berbeda dari yang lainnya. Penerapan tema dilakukan melalui warna dan gambar produk, khususnya kaus.

Sumber ide dia peroleh dari banyak hal. Musim terbaru tahun ini diberi tema Fourteen for Teenage berdasarkan umur Airplane Systm tahun ini dan salah satu koleksi kaus dari tema ini akan bergambar karya 14 seniman, di antaranya Tere dan Tisna Sanjaya.

Pada tahun 2009, Fiki juga pernah membuat tema Dancing Smoke yang terinspirasi oleh asap obat nyamuk.  ”Waktu melamun, saya lihat bentuk asap obat nyamuk. Ternyata kalau dilihat dengan teliti bagus juga karena bentuknya bisa berubah- ubah,” ujar Fiki. Gambar abstrak yang dibuat dari bentuk asap ini kemudian disablon di atas kaus. Lebih menarik lagi, setiap desain menggambarkan karakter manusia. Contohnya, bagi mereka yang berkarakter tenang, kaus yang cocok adalah kaus bergambar asap yang lebut (laminar), sedangkan untuk mereka yang mempunyai karakter agresif, kaus dengan gambar asap yang berputar-putar (swirl) adalah kaus yang tepat.

Untuk pemasaran, Fiki mempunyai cara yang unik. pada tahun 2006, dengan bantuan temannya yang bekerja di perusahaan otobus, dia membuat toko berjalan yang bernama Airbus One. Interior bus diganti dengan rak untuk memajan produk-produk Airplane Systm.

Tela Krezz

Firmansyah Budi Prasetyo, pendiri Tela Krezz.

Contoh lain adalah Firmansyah Budi Prasetyo, lelaki asal Yogyakarta. Pria yang berumur 30 tahun ini dijuluki Sarjana singkong, karena sejak tahun 2006 membuat singkong goreng yang renyah dan pulen berbentuk stik dan diberi nama Tela Krezz (tela = telo = singkong).

Selain itu, Firmansyah juga mampu megolah tepung singkong menjadi berbagai macam makanan seperti tela lapis tela bolu, masing-masing tersedia dalam bebrbagai macam rasa mulai dari strawberry, chocolate sampai lemon. Semua produk diatas menggunakan seratus persen singkong sebagai bahan utama, tanpa tambahan terigu.

Pemasaran Tela Krezz pun unik. Produk-produknya di pasarkan dalam bentuk street vendors. Gerobak yang dipakai diberi cat kuning dan hijau dan beroperasi layaknya pedagang lainnya.

Usaha yang dimulai sejak tahun 2006 oleh pria lulusan Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta ini dalam waktu 6 tahun berkembang menjadi usaha yang besar dengan 1053 outlet dan omset sebesar 2 milyar Rupiah.

Sour Sally

Donny Pramono, pendiri Sour Sally.

Pekerja keras lainnya adalah Donny Pramono asal Kendari. Donny yang bersekolah di Surabaya dan mempunyai gelar master bidang pemasaran University of la Verne ini membuka Sour Sally pada tahun 2008 di mal Senayan City, Jakarta.

Produk yang dijual adalah yoghurt beku dengan berbagai topping. Di Indonesia masih belum ada lifestyle mengkonsumsi yoghurt seperti di Amerika, tempat dia meraih gelar Masternya. Bagi Donny, pencitraan merek berperan sangat penting dalam menciptakan gaya hidup yang sama di Indonesia.

”Saya ingin, ketika bicara yoghurt, orang langsung ingat pada Sour Sally. Bagi saya, siapa pun bisa membuat yoghurt. Jadi, bisnis saya harus kuat di branding,” kata Donny.

Oleh sebab itu, Donny membuat konsep dagang dengan bantuan jasa desain merek di Singapura. Berkat ini, lahirlah Sour Sally.

”Sally itu seorang gadis kecil yang manis, lalu dipadukan dengan sour yang artinya asam. Nama ini sesuai dengan produk yang dijual, yaitu yoghurt. Jadi, Sour Sally tidak hanya produk, tetapi juga merek dan karakter,” tutur Donny.

Sejak usahanya dimulai, setiap hari banyak pengunjung yang berdatangan untuk mencicipi produk Sour Sally.

Generasi muda kita dengan gigihnya mencari nafkah dengan berdagang, tidak dengan mencuri. Mudah-mudahan mereka bisa menjadi model untuk para koruptor atau orang-orang yang sedang berpikir untuk menjadi koruptor.

Pesan moral untuk para koruptor:  kerja keras dan kesabaran adalah jaminan menuju kesuksesan dan kepuasan. Mencuri adalah jaminan menuju penjara dan neraka.

Sumber: http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2012/02/19/07165768/Mereka.Bekerja.Keras.Bukan.Korupsi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s