Sulap Limbah Mawar Jadi Pewarna Alami untuk Es Krim

Mauren Gitta Miranti Syahrudin,  Lulusan Prodi Pendidikan Tata Boga Jurusan PKK-FPTK-Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung menerapkan idenya untuk membuat es krim dari bunga mawar. Hmm, bagaimana bentuk dan rasanya ya?

Mauren memang berkeksperimen dengan bunga mawar. Dia melihat dari sisi lain yakni hasil penelitian sejumlah peneliti bahwa bunga mawar mengandung pigmen antosianin yakni zat pewarna. Dari sinilah, Mauren mencoba idenya itu.

Jangan salah duga dulu, bukan bunga mawar yang dijadikan es krim tapi zat pewarna dalam kandungan bunga mawar inilah yang dijadikan pewarna alami dalam membuat es krim. Pilihan es krim karena dalam dunia kuliner, belum ditemukan es krim dengan pewarna alami hasil ekstraksi limbah bunga mawar . Terlebih bila bunga mawar yang dimanfaatkan adalah limbah bunga mawar.

“Tidak semua limbah hanya bisa dibuang begitu saja. Contohnya limbah bunga mawar atau bunga mawar kering masih dapat gunakan untuk pewarna makanan,” kata Mauren di kampus UPI.

Menurut mahasiswi cantik kelahiran Kuningan, 12 Maret 1989 ini, bunga mawar merah atau Rosa damascene Mill banyak dimanfaatkan sebagai bunga potong untuk hiasan di perkantoran, hotel, maupun di rumah. Bunga mawar banyak dipilih bukan saja bentuknya yang indah namun warnanya juga beragam dan sangat cantik bila dijadikan hiasan. Hanya saja seperti kebanyakan bunga umumnya,  jika telah berumur 3 atau 4 hari bunga bisa layu.

Bila sudah seperti ini tentu daya tariknya akan berbeda. Karenanya, kalau bunga sudah layu kerap dibuang tanpa dimanfaatkan untuk keperluan lain. Padahal limbah bunga mawar ini masih bisa dimanfaatkan yakni zat pewarna dalam kandungannya tersebut.

“Dalam bunga mawar yang telah layu masih mengandung pigmen antosianin. Dan zat warna ini banyak diisolasi untuk digunakan dalam beberapa bahan olahan, makanan maupun minuman, mungkin ini yang belum banyak diketahui orang,” terang perempuan yang pernah menjadi juara II pada lomba Desain Kemasan Makanan se-Jawa Barat tahun 2009 ini.

Menurutnya, dalam bunga mawar yang telah layu masih terdapat pigmen antosianin. Antosianin merupakan salah satu zat pewarna alami berwarna kemerah-merahan yang larut dalam air dan tersebar luas di dunia tumbuh-tumbuhan. Bahkan zat warna ini masih mempunyai pigmen antosianin yang berfungsi sebagai antioksidant, dimana hal tersebut diperlukan oleh tubuh.

Selain itu pewarna alami hasil ekstraksi limbah bunga mawar yang aman dan berkhasiat sebagai antioksidan. Ia pun mencoba memanfaatkan zat pewarna dalam bunga mawar sebagai pewarna es krim. Dipilihnya es krim karena panganan ini merupakan frozen dessert yang sangat populer dengan berbagai jenis produk.

Dan diyakini kalau penggunaan pewarna alami dari hasil ekstraksi limbah bunga mawar bisa diterapkan untuk es krim dan dari ilmu yang sudah diperolehnya, penambahan pigmen antosianin pada susu fermentasi terbukti mampu meningkatkan tampilan warna merah dan bertindak sebagai antioksidator alami dengan menghambat kerusakan vitamin C dan lemak akibat oksidasi.

“Selain itu, es krim mempunyai suhu   40OC, yang artinya pigmen antosianin tidak akan rusak. Dengan memanfaatkan zat pewarna alami dari bunga mawar ini maka bisa diketahui juga bahwa nilai guna limbah bunga mawar menjadi meningkat, dan dari limbah bunga itu sendiri bisa menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat. Bukan itu saja, penggunaan pewarna sintetik dapat dikurangi dengan memberikan alternatif pewarna alami hasil ekstraksi limbah bunga mawar yang aman dan berkhasiat,” jelas mahasiswi yang pernah terpilih menjadi salah satu peserta Student Exchange ke University of Malaysia tahun 2010 ini.

Saat mempraktekan, ia menambahkan pewarna dalam es krim dengan takaran 30 mililiter dicampurkan dalam masing-masing dua liter es krim, kemudian diaduk hingga tercampur rata kemudian dibekukan. Untuk mencampurnya, ia melakukannya setelah es sudah setengah jadi, atau tinggal dibekukan. Setelah satu hari dan es sudah jadi, ujarnya, dilanjutkan dengan uji hedonik es krim pewarna alami. Ia juga mencoba dalam uji organoleptik menggunakan dua sampel, yaitu es krim dengan pewarna buatan dan pewarna alami dari limbah bunga mawar.

Dari hasil uji organoleptik diperoleh hasil  kalau pewarna alami hasil ekstraksi limbah bunga mawar lebih menarik daripada pewarna buatan. Selain itu, rasa juga enak. “Di sini kami menggunakan responden 30 orang. Hasilnya, 97 persen yang mencoba es krim dengan pewarna alami bunga mawar ini suka, ini  artinya dapat diterima dengan baik,” ujarnya.

Sumber: http://www.tribunnews.com/2012/03/05/sulap-limbah-mawar-jadi-pewarna-alami-untuk-es-krim

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s