Herman Jadi Dosen Gamelan di Malaysia

Bagi Herman (61 tahun), gamelan adalah darah yang mengalir di seluruh tubuhnya. Suara gamelan selalu mengalun merdu bersama detak jantungnya.

“Gamelan adalah darah saya. Dan saya ingin lebih memperkenalkan atau memberikan pemahaman tentang Indonesia lewat kesenian khususnya gamelan,” kata Herman.

Pria bernama lengkap Dwiono Hermantoro ini adalah seorang dosen yang mengajarkan para mahasiswanya untuk bermain gamelan dengan baik dan benar.

Yang menarik, dia adalah dosen gamelan untuk para mahasiswa di sebuah perguruan tinggi di Kuala Lumpur, Malaysia. Siswanya pun adalah warga negara Malaysia.

Saat ini, Herman adalah pensyarah Tamu di Universiti Pertahanan Nasional Malaysia (UPNM) atau kalau di Indonesia disebut sebagai dosen tamu sejak bulan Juli 2011.

Sebelumnya, dia sempat menjadi karyawan tamu dari unit kebudayaan Universiti Teknologi Malaysia (UTM). Keberadaannya di UTM berlangsung sejak 1997 hingga 2010. Di tempat tersebut selain mengajar gamelan, juga menjadi pembina paduan suara dan menyanyi keroncong.

Sebagai dosen, tentunya dia harus memberikan informasi yang selengkap-lengkapnya kepada para siswanya. Ia menjelaskan secara detail apa itu gamelan, bagaimana asal-usulnya termasuk siapa saja yang menggunakan gamelan di jaman dulunya.

“Saya selalu terangkan kepada para siswa agar mereka faham mengenai asal-usul kesenian tersebut dari Indonesia,” ungkap pria yang dilahirkan di Kota Bandung, Jawa Barat tahun 1951 itu.

Karena kesenian seperti gamelan juga ada di Malaysia, para mahasiswanya pun merasa kesenian tersebut juga menjadi bagian dari budaya mereka.

Perlu juga diketahui bahwa gamelan di Malaysia juga sudah dikenal sejak dulu bahkan sebelum terbentuknya dua negara, Indonesia dan Malaysia.

Herman bercerita bahwa gamelan bisa saja dibawa sejak kerajaan Nusantara ini membantu kerajaan yang ada di Melaka. Contohnya Patih Unus yang terkenal itu dulu ikut mengusir penjajah dari Melaka.

Bisa juga dibawa oleh para pekerja ladang yang dulunya didatangkan untuk bekerja di kebun-kebun di wilayah yang sekarang menjadi bagian dari Malaysia.

Di negara ini, ungkap dia, tidak hanya gamelan yang dipelajari dan diajarkan di perguruan tinggi mereka, tapi juga kesenian seperti reog ponorogo (kalau di Malaysia disebut barongan), calempong (talempong) dan lainnya.

“Mereka senang dan bangga bisa memainkannya dan tidak merasa kuno ataupun ketinggalan jaman mempelajari kesenian tersebut. Ini yang beda di Tanah Air kita, kalau ada masyarakat yang menekuni kesenian tradisional dianggap kuno,” katanya.

Apalagi, pemerintah Malaysia memberi dukungan penuh untuk kesenian tradisional tersebut dan hampir di setiap perguruan tinggi ada pelajaran tentang kesenian-kesenian ini.

“Sungguh menarik, di setiap perguruan tinggi di negara ini pasti memiliki gamelan. Alat kesenian ini biasanya dimainkan untuk menyambut para wisudawan, kedatangan tamu ataupun pada prosesi wisudanya,” ungkap pria yang dulu juga pernah menjadi guru musik di Medan, Sumatera Utara dan Padang, Sumatera Barat.

Bagi bapak yang telah banyak menelorkan sarjana-sarjana gamelan ini, mengajar gamelan di Malaysia cukup senang dan membanggakan sebab gamelan baginya adalah bagian dari hidupnya.

Untuk tetap melestarikan gamelan Indonesia dia juga turut membina komunitas gamelan Indonesia yang tersebar di Selangor, Johor, Batu Pahat dan sejumlah tempat lainnya di negara ini.

Darah seni yang mengalir pada Herman rupanya tidak saja untuk gamelan, tapi juga untuk kesenian seperti wayang orang, ketoprak ataupun tarian Sunda dan Jawa.

Ia mengaku sangat ingin membina WNI ataupun TKI agar bisa memainkan gamelan Indonesia dan kesenian lainnya sebagai bentuk kepedulian terhadap pelestarian seni budaya Indonesia.

“Saya akan mengajar kepada WNI- TKI yang berminat main gamelan,” ungkap bapak dua anak dan kakek tiga orang cucu ini.

Namun bagaimanapun juga, diakuinya kualitas penguasaan materi pelajaran tentang gamelan masih lebih baik di dalam negeri. Dan tentunya dengan memberikan pengajaran tentang gamelan kepada pihak asing semakin bisa menunjukkan betapa kayanya seni dan budaya Indonesia yang patut dibanggakan. “Saya akan senantiasa mempromosikan seni dan budaya Indonesia lewat gamelan,” harapnya. 

Sumber: http://oase.kompas.com/read/2012/03/16/2036429/Herman.Jadi.Dosen.Gamelan.di.Malaysia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s