Sang Empu Batik

Santosa Doellah dikukuhkan sebagai empu seni batik oleh Institut Seni Indonesia Surakarta, Rabu (29/2). Tak hanya karena telah menciptakan lebih dari 300 motif batik atau mendirikan Museum Batik Kuno Danar Hadi, dengan koleksi lebih dari 10.000 lembar batik, dia juga dianggap memenuhi berbagai kriteria lain. Di tangan Santosa Doellah, batik menjadi industri yang menghidupi.

Seperti dipaparkan Rektor Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta T Slamet Suparno saat acara pengukuhan, Santosa dinilai memiliki kepakaran, reputasi, sarana dan prasarana, kemampuan manajemen, serta kemauan untuk menjadi pendidik. Semua itu yang membuat ISI mengukuhkannya sebagai empu. Karya-karya Santosa dinilai tak lekang dimakan zaman dan dapat dijadikan rujukan dunia pendidikan.

Gelar empu dalam dunia akademik setara dengan kompetensi doktor berkemampuan profesi spesialis. Di tengah segala pencapaiannya, Santosa tetap rendah hati. Selain berucap terima kasih dan menyatakan bangga atas anugerah itu, dia juga mengatakan dirinya sebenarnya bukan apa-apa.

”Saya ini bukan apa-apa, kok diberi gelar empu. Saya minta doa restunya agar bisa mengemban tugas dengan baik,” katanya seusai pengukuhan di Pendapa ISI Surakarta.

Pedomannya dalam membuat pola batik adalah melihat selera pasar. Ia kemudian mengembangkan motif-motif baru dari berbagai motif yang sudah ada. Meski puluhan tahun berkecimpung di dunia batik, bagi Santosa, batik telah menjadi ilmu yang dinamis. Ia terus berkembang, tidak statis.

Menciptakan motif batik penting bagi Santosa. Sebenarnya bisa saja ia sekadar berdagang, menjual batik produksi orang lain jika sekadar mengejar materi. Namun, kecintaannya terhadap batik, ditambah pertimbangan perlu adanya ciri khas pada batik yang dijualnya, memproduksi batik sendiri menjadi pilihan.

”Melihat sehelai wastra batik layaknya menyaksikan orkestra. Kita dibawa pada kekaguman luar biasa terhadap keterampilan menggoreskan canting dan keahlian memadu warna,” katanya.

Batik kuno koleksi Santosa menjadi sumber inspirasinya dalam membuat motif baru. Ia menekankan ragam hias tradisional dalam motif-motif kreasinya.

Teknologi membatik boleh saja dikenal di berbagai negara. Akan tetapi, dalam pandangannya, aspek seni budayalah yang memberikan bobot pada batik Indonesia. Oleh karena itulah, ia berprinsip, pengelolaan pelestarian batik tidak boleh lepas dari aspek seni budaya.

Sejak remaja

Santosa mengenal batik sejak remaja. Saat itu, ia tinggal bersama kakek dan neneknya, RH Wongsodinomo, juragan batik. Seluk-beluk batik mulai dari proses produksi hingga pengelolaan usaha batik dipelajarinya dari kakek dan neneknya.

Saat kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Padjadjaran, Bandung, dia juga menyambi berdagang kain batik halus dari Solo, Jawa Tengah. Uang tabungan hasil berjualan selama kuliah kemudian dijadikan modal untuk merintis usaha batik sendiri bersama sang istri, Danarsih Hadipriyono, yang saat itu baru dinikahinya.

Modal usahanya ditambah hadiah pernikahan dari kakek-neneknya berupa 29 pak kain mori yang jadi 174 lembar kain batik.

Ia mengawali usaha batik skala industri rumah tangga tahun 1967 dengan 20 pembatik. Berselang dua tahun kemudian, usaha batik yang diberinya label Danar Hadi, berasal dari nama sang istri, itu berkembang pesat dengan melibatkan 1.000 pembatik. Selain pembatik dari Bayat, Klaten, Plupuh, Sragen, dan Sukoharjo, Danar Hadi juga membuka cabang pembatikan hingga Pekalongan dan Cirebon pada tahun 1975.

Dari semula sebagian besar produksi batik terserap untuk kebutuhan Pasar Tanah Abang, Jakarta, Danar Hadi lalu membuka rumah- rumah batik yang dioperasikan sendiri, seperti di Jakarta, Semarang, Surabaya, Bandung, Yogyakarta, dan Bali.

Tak hanya itu, Danar Hadi juga bisa ditemukan di mal-mal di seluruh Tanah Air. Kini produk Danar Hadi juga diekspor ke sejumlah negara. ”Saya menerapkan sistem manajemen modern untuk meningkatkan produktivitas dan pelayanan kepada konsumen,” kata Santosa.

Batik yang semula hanya dibuat manual dengan tangan menggunakan canting berkembang menjadi batik cap dan batik printing. Dengan begitu, kebutuhan batik semua lapisan masyarakat terpenuhi. Agar bisa selalu memenuhi selera pasar, Danar Hadi bekerja sama dengan para perancang busana Tanah Air. Pemakaian batik yang dulu sebatas kain panjang telah berkembang menjadi busana sehari-hari, busana siap pakai, busana pesta, bahkan sebagai material desain interior.

Usaha batik Danar Hadi lantas merambah industri pertenunan, pemintalan benang, dan garmen. Danar Hadi menguasai produksi batik dari hulu ke hilir.

Tahun 1981 Santosa mendirikan perusahaan tenun dan finishing PT Kusumahadi Santosa. Tahun 1990 ia mendirikan perusahaan pemintalan benang katun PT Kusuma Putra Santosa. Setahun kemudian, ia mendirikan usaha garmen PT Kusuma Putri Santosa dan usaha furnitur Jawi Antik.

Santosa juga memugar bangunan Dalem Wuryaningratan yang dibelinya dan mendirikan Museum Batik Kuno Danar Hadi di sebelah timur Dalem. Kompleks ini setelah dilengkapi Soga Resto and Café lantas dinamakan House of Danar Hadi dan menjadi salah satu alternatif tujuan wisata di Solo.

Kini Danar Hadi Group telah dikelola oleh generasi baru, yakni ketiga anak Santosa dan Danarsih, yakni Diana Kusuma Dewati Hariyadi, Dewanto Kusuma Wibowo, dan Dian Kusuma Hadi.

Selain berkiprah dalam sejumlah kegiatan sosial, Santosa juga ingin menapak keinginannya yang lain, yakni berbagi ilmu batik dengan generasi muda. Ia menyatakan sanggup mengajar di ISI Surakarta selama beberapa kali dalam sebulan.

Di bengkel kerjanya pun, Santosa masih aktif mengajar para desainer motif perusahaannya.

”Usaha yang saya rintis dan jalani selama ini tidak berorientasi keuntungan semata. Saya juga ingin berbagi dengan masyarakat,” kata anak kelima dari 10 bersaudara ini.

Sumber: http://oase.kompas.com/read/2012/03/10/17003451/Sang.Empu.Batik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s