Kota Sengkang, Surga Sutra di Timur Indonesia

Kota Sengkang. Nama kota kecil yang berjarak kira-kira 250 kilometer dari Makassar, Sulawesi Selatan ini memang belum banyak terdengar. Namun, siapa yang menyangka, kota ini merupakan surga kerajinan sutra di Indonesia timur.

Hampir seluruh warga di kota ini menggeluti kerajinan sutra. Bahkan, mereka pun melakukan proses pemeliharaan ulat sutra di rumah-rumah. Seperti pemandangan yang terlihat di sebuah desa di Kecamatan Sabbangparu. Hampir seluruh kolong rumah warga di kampung ini merupakan kandang ulat sutra. Kondisi tanah yang subur memudahkan para warga untuk menanam pohon murbei yang merupakan pakan ulat sutra. 

“Dalam sehari kita harus kasih makan lima kali. Baru kalau malam dikasih lampu biar terang,” ujar Minintang, salah seorang peternak ulat sutra, Selasa (8/5/2012).  Benang sutra yang dihasilkan dijual dengan harga Rp 340.000 per kilogram. 

Nah, selain menjual benang, warga juga memanfaatkan benang hasil pintalannya ini dengan bertenun. Mereka menggunakan alat tradisional untuk merangkai untaian benang sutra menjadi bentangan kain yang indah dengan berbagai motif dan corak. 

Ada dua jenis alat tenun yang lazim mereka gunakan. Yang pertama adalah alat tenun “bola-bola” dan yang kedua disebut “bola”. Meski namanya mirip, namun kedua alat ini tentu berbeda. Alat tenun “bola-bola” digunakan dengan menggunakan kedua tangan serta kaki. Sementara alat tenun “bola” hanya menggunakan tangan yang benangnya dimasukkan satu per satu. 

“Kalau ‘bola bola’ caranya digunakan gampang dan cepat. Tapi kalau yang ‘bola’ susah dan lama bikinnya, tapi bagus kualitasnya harganya juga mahal,” ujar Nurmi salah seorang perajin sutra.

“Bola-bola” mampu menghasilkan satu sarung selama empat hari dengan harga berkisar Rp 60.000- 70.000 per helai. Sementara “bola” memakan waktu lebih lama. Untuk satu buah sarung diperlukan waktu dua bulan. Namun alat tenun bola ini menghasilkan sutra yang berkualitas dengan harga Rp 600.000-900.000 per helainya. 

Selain corak dan motif yang unik, proses pembuatan hingga pewarnaan masih menggunakan bahan alami. Para perajin Sangkang memakai pucuk daung mangga, getah pohon, daun pandan hingga kunyit untuk memberi aksen pada hasil tenun. Menurut Nurmi, hal ini dilakukan untuk memberikan kualitas warna abadi yang tak termakan usia. 

Proses yang sama pun dilakukan saat membuat kain sutra. Menurut Nurmi, kain sutra memungkinkan pembelinya untuk mengkreasikan hasil tenunan sesuai dengan selera. Mereka bisa menjadikannya baju, aksesoris atau bahkan tas. 

Sayangnya, hingga kini, produk natural yang membanggakan ini masih terganjal masalah pemasaran. Umumnya, barang-barang istimewa ini dijajakan oleh para perajinnya di pasar-pasar tradisional. Selebihnya, tak ada pilihan lain, kain-kain istimewa itu dijual dengan harga murah kepada pengusaha lokal. Para pengusaha itu yang kemudian mengeruk keuntungan besar dengan mamasarkannya ke mancanegara.

Harga kain pun melambung, namun keuntungan besar didapat oleh pemodal. Jerih para penenun seolah tak terbalas….

Sumber: http://travel.kompas.com/read/2012/05/08/10085447/Kota.Sengkang.Surga.Sutra.di.Timur.Indonesia.

2 thoughts on “Kota Sengkang, Surga Sutra di Timur Indonesia

  1. Kalau saja desa ini dikenalkan internet dan anak-anak mudanya dididik marketing, menulis atau ngeblog, saya kira sutera Sengkang akan lebih banyak dikenal oleh penggemar kain sutera..

  2. Kami sangat setuju dengan anda Jurnal Transformasi.

    Kalau saja pemerintah daerah mendukung para pengerajin sutra, saya yakin banyak benefit yang bisa didapat, baik untuk kota Sengkang dan kota-kota lain di Sumatera Selatan maupun untuk para pengerajin.

    Kasihan mereka sudah bekerja keras tapi hasil yang mereka dapat kurang maksimal.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s