Gairah Bisnis Tenun Ikat

Maria Yovita Meta

Usaha tenun ikat manual butuh kesabaran dan ketekunan. Apalagi, harus memanfaatkan bahan baku benang dari kapas lokal (asli) hasil budidaya kelompok sendiri. Usaha semacam ini hanya dijalankan 42 kelompok tenun ikat dari suku Biboki, Kabupaten Timor Tengah Utara, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Tenun ikat berbahan kapas asli lebih mahal dan bernilai adat tinggi.

Masyarakat di 21 kabupaten/kota di Nusa Tenggara Timur (NTT) memiliki keterampilan tenun ikat dengan motif bervariasi. Namun, hampir sebagian besar kelompok menggunakan bahan baku benang toko atau pabrikan. Benang yang lebih mudah diperoleh.

Maria Yovita Meta (49) adalah satu dari sekian penggiat tenun ikat di NTT yang masih mempertahankan tenun ikat dari kapas lokal. Ditemui di Kefamenanu, ibu kota Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Senin (26/3/2012), ia sedang membina 30 pelajar perempuan dari beberapa sekolah di kota itu. Pembinaan sejak tahun 2007 itu dilakukan karena kian sedikit kaum perempuan berminat dalam keterampilan ini.

”Ini bagian dari pendidikan ekstrakurikuler sekolah. Saya ke dinas pendidikan dan kebudayaan serta sejumlah sekolah meminta mereka mendukung program ini. Mereka setuju, para siswa dilatih, kemudian melatih teman-teman mereka,” kata Meta.

Direktris Yayasan Taveam Pah ini juga membina 75 kelompok tenun ikat. Sekitar 42 kelompok fokus pada tenun ikat berbahan kapas dan 33 kelompok lain memilih benang toko. Setiap pekan, secara bergilir Meta dan tiga anggota staf mengunjungi kelompok binaannya. Kelompok yang mandiri cukup diamati dari jauh lewat hasil karya yang dikirim ke yayasan. Sekitar 66 motif tenun ikat dari suku Biboki segera dipatenkan. Tenun ikat Biboki dengan keanekaragaman motif kini juga menjadi bahan studi.

Ke-42 kelompok binaan ini beranggotakan 750 orang. Tiap kelompok beranggota 10-15 orang. Mereka tersebar di 12 desa di tiga kecamatan, khusus suku Biboki.

Meta yang lulus dari sekolah kepandaian putri ini selalu menekankan kepada kelompok agar wajib menanam kapas. Juga menanam tanaman tarum untuk pewarnaan.

Buah kapas yang dipanen lalu dijemur, dibersihkan, dan dipintal jadi benang secara berkelompok. Proses pintal benang ini biasanya berlangsung malam hari atau saat hari libur.

Satu kelompok dalam sehari menghasilkan 5-7 tukal benang atau satu kain sarung. Semua anggota harus berperan aktif pada hari yang sama.

Hasil tenun diantar ke Meta. Selendang panjang 1 meter dan lebar 20-40 sentimeter dihargai Rp 150.000-Rp 400.000 per lembar. Harga tergantung dari tingkat kesulitan proses mengadakan benang sampai menjadi kain. Sementara sarung panjang 1,7 meter dan lebar 1,5 meter dijual Rp 1,7 juta-Rp 2,5 juta. Sarung berbenang kapas jelas lebih mahal.

Hasil tenunan dengan bahan benang toko hanya Rp 50.000-Rp 200.000 per selendang. Sarung dijual Rp 250.000-Rp 750.000 per lembar.

Diekspor

Tenunan berbahan kapas lokal lebih diminati turis. Tenunan ini sebagian besar dikirim ke Australia, Jerman, dan Belanda untuk dipamerkan. Tenunan asli juga untuk mas kawin, urusan adat, dan penghargaan kepada raja-raja Timor. Nilai adatnya tinggi.

Tahun 1999, Museum Darwin memesan 3.000 lembar kain sarung asli senilai Rp 2 juta per lembar. Dua pekan kemudian, mereka mengirim 2.000 dollar Australia untuk pembelian 50 lembar sarung lagi.

Usaha tenun ikat ini digeluti sejak tahun 1989 setelah Meta mengikuti studi banding ke Sabu Raijua, NTT, bersama sejumlah ibu dari Australia, Medan, dan Singapura. Dia mengumpulkan 10 anggota PKK, kemudian menggeluti usaha itu.

Kelompok binaan Meta terus berkembang. Ia mengaku sudah membina ribuan kaum ibu dan pria dalam bentuk kelompok. Ada juga yang lantas membuka usaha sendiri.

Ke-42 kelompok tenun ikat binaan Meta menghasilkan 600-700 lembar sarung per tahun, juga 2.000-2.500 lembar selendang. Kain biasanya dijual ke Yayasan Taveam Pah atau langsung ke pasar setempat.

Satu anggota dapat menghasilkan 3-5 sarung, termasuk selendang. Sarung dijual Rp 1,5 juta-Rp 2,5 juta per lembar. Hasil penjualan sangat membantu biaya pendidikan anak, membangun rumah, dan kesehatan.

Namun, karena hampir semua keluarga punya keterampilan tenun ikat, Yayasan Taveam Pah membelinya, kemudian menjualnya ke Kupang, Surabaya, dan Denpasar, bahkan ke luar negeri. Ekonomi keluarga pun maju sekaligus budaya pun langgeng.

Sumber: http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2012/04/22/12352256/Gairah.Bisnis.Tenun.Ikat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s