Lawe Berjuang Lestarikan Lurik

Lawe berupaya kembalikan pamor kain tenun lurik.

Tidak semua produk budaya bangsa bertahan dan populer di tengah-tengah masyarakat. Salah satu contoh produk budaya yang kian merosot pamornya adalah kain tenun lurik. Kain yang bermotif dasar garis-garis atau kotak-kotak berwarna-warni ini masih ramai dipakai oleh masyarakat Jawa sekitar tahun 1960-1970.

“Sekarang paling hanya untuk upacara tertentu, seperti dipakai para abdi dalam dan sarung mbok jamu,” sebut Manajer Unit Bisnis Lawe, Fitria Werdiningsih kepada Kompas.com, di Jakarta, akhir pekan lalu.

Karena kondisi itu, Lawe pun muncul sebagai suatu perhimpunan yang berniat mempopulerkan kembali kain lurik. Lawe berdiri sekitar tahun 2004 di Yogyakarta. Lalu mereka pun mempunyai suatu unit bisnis. Tapi unit bisnisnya bukan sekadar mencari untung karena sebagian hasil usaha digunakan untuk kegiatan sosial perhimpunan. “Kayak batik tapi kalah populer. Mungkin dengan kami ber-campaignmembuat lurik jadi populer,” sambungnya.

Tidak hanya melestarikan budaya, Lawe pun berusaha memberdayakan para perempuan khususnya ibu rumah tangga. Sebagian pekerja yakni 80 persen adalah kaum hawa. Mereka kebanyakan dipakai sebagai tenaga penjahit untuk produk-produk yang dihasilkannya. Mereka adalah para ibu rumah tangga.

Uniknya, para pekerja ini tidak dikumpulkan di suatu tempat layaknya pekerja pabrik. Para ibu ini mengerjakan produknya di rumah masing-masing. Ini sengaja dilakukan, kata Fitria, supaya perempuan tidak meninggalkan rumah atau keluarganya. “Ini memang tujuannya mother friendly. Bahan kami kirim, selesai diambil, lalu di-finishing. Kalau ada yang kurang atau perlu diperbaiki diantarin lagi,” paparnya.

Pembayaran kepada para pekerja biasanya dilakukan saat barang diantar ke tempat workshop Lawe. Misalnya, untuk menjahit 1 tas, pegawainya diberikan upah Rp 10.000, lalu upah itu dikali sejumlah tas yang dibuat. Sudah ada puluhan jenis produk yang dihasilkan Lawe. Produk paling murah yakni pembatas buku dihargai sekitar Rp 7.000 sedangkan paling mahal adalah bed cover yang bisa dibeli dengan harga Rp 1,5 juta.

Fitria menyebutkan, produk Lawe juga menyasar kaum muda. Maka dari itu kain lurik yang digunakan menggunakan warna-warna yang cerah. “Setiap hari kita produksi,” sebutnya.

Pemasaran produk lurik ala Lawe pun tidak hanya di daerah sekitar Yogyakarta saja. Produk-produknya sudah sampai ke Jakarta hingga Sumatera. Produk ini bisa ditemui di sejumlah mal besar di Jakarta. Penjualan dilakukan dengan sistem konsinyasi.

Produk lurik Lawe pun sempat merambah Belgia, Australia hingga Jepang. Tapi masih sebatas oleh-oleh yang dibawa oleh sejumlah ekspatriat saat pulang ke tempat asalnya. “Kirim sendiri dalam jumlah besar belum,” ucap Fitria. “Ada tawaran untuk ekspor. Tapi ekspor biasanya marjinnya tipis,” pungkas dia.

Sumber: http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2012/05/04/11365853/Lawe.Berjuang.Lestarikan.Lurik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s