IPB Hijaukan Kawasan Mangrove Pesisir Jakarta

Institut Pertanian Bogor sejak 2005, menebar 40 ribu lebih bibit mangrove yang ditanam di kawasan pesisir Jakarta.

Pakar mangrove yang juga Guru Besar Fakultas Kehutanan (Fahutan) IPB Prof Cecep Kusmana kepada ANTARA di Bogor, Sabtu menjelaskan, puluhan ribu mangrove itu ditebar di kawasan Tol Sedyatmo, Pantai Indah Kapuk, dan Angke.

Menurut dia, penanaman mangrove di kawasan pesisir ibu kota tersebut dilakukan IPB dengan melibatkan berbagai kementrian, BUMN, dan pemerintah daerah.

Mantan Dekan Fakultas Kehutanan IPB ini mengatakan, dalam hal ini IPB bekerja sama dengan Kementrian Kehutanan, Kementrian Negara BUMN, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Pertamina, Jasa Marga, Pemerintah Kota Adiminstrasi Jakarta Utara, dan Perusahaan Gas Negara (PGN).

Aksi terbaru penyelamatan lingkungan ala IPB dilakukan pada Rabu (9/5) di kawasan mangrove Elang Laut, KM 24 Jalan Tol Sedyatmo, Pantai Indah Kapuk (PIK), Jakarta Utara.

Pada kegiatan yang dilakukan bersama Perusahaan Gas Negara (PGN) dalam rangka HUT ke-47 perusahaan BUMN tersebut, ditanam sebanyak 11 ribu bibit mangrove di kawasan hutan lindung itu.

“Kami bersama PT PGN menanam 11 ribu bibit mangrove di KM 24 Tol Sedyatmo,” kata Cecep Kusmana, yang kini menjabat sebagai Ketua Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (PSL) Pascasarjana IPB.

Ia mengemukakan, sebelum aksi penanaman bersama PT PGN tersebut, IPB telah menanam lebih dari 30 ribu bibit mangrove, yang dilakukan dengan melibatkan berbagai kementrian, Pemda DKI maupun BUMN lainnya.

Dengan begitu, sejak 2005, IPB telah menebar lebih dari 40 ribu bibit di kawasan cagar alam yang menjadi paru-paru penyelamat Jakarta dari ancaman rob, bahaya sedimentasi maupun intrusi air laut.

Wakil Rektor IPB Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Prof Yonny Koesmaryono menambahkan, penanaman mangrove yang dilakukan IPB itu merupakan inisiatif dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) dengan menggunakan teknik guludan, inovasi yang diciptakan oleh Cecep Kusmana.

“Atas nama IPB, saya ucapkan terima kasih kepada Prof Cecep Kusmana yang menciptakan inovasi, sehingga dengan penemuan itu, kita dapat merehabilitasi tanaman mangrove di kawasan hutan lindung yang tergenang air. Tanpa inovasi guludan, kita kesulitan menanam di kawasan yang tergenang air,” katanya.

Yonny Koesmaryono mengatakan, dalam kesempatan tersebut IPB dan PGN menanam 11 ribu mangrove dengan membuat sebanyak 47 guludan.

“Kegiatan ini untuk merehabilitasi ekosistem mangrove di wilayah pesisir Angke Kapuk, agar ekosistem mangrove di wilayah tersebut dapat berfungsi optimal dalam perlindungan lingkungan pesisir Jakarta,” katanya.

Inovasi “Guludan” 

Cecep Kusmana mengatakan, saat ini di Jakarta sebagian besar kawasan mangrove yang ada berada dalam kondisi rusak. 

“Sebagian dari kawasan yang rusak tersebut berupa tapak-tapak khusus yang tidak bisa secara langsung ditanami mangrove. Dengan inovasi teknologi `guludan` ini tapak khusus tersebut dapat ditanami mangrove,” kata dia.

Teknologi tersebut, kata dia, sejak tahun 2005 telah diujicobakan untuk merehabilitasi jalur hijau dengan tanaman bakau di sepanjang jalan tol Sedyatmo, Jakarta Utara, yang merupakan program dari Dinas Pertanian dan Kehutanan Pemerintah Provinsi DKI-Jakarta.

Jalur hijau tersebut membentang sepanjang lima kilometer dengan lebar 200 meter mulai dari pintu tol Muara Angke sampai dengan jalan layang (fly over) Cengkareng.

Teknik “guludan”, kata dia, cara kerjanya yakni di antara tapak-tapak khusus dimaksud adalah lahan yang terendam air yang dalam –kedalaman air antara satu meter hingga dua meter– yang sebagian besar ditemukan sebagai hamparan lahan tambak yang telantar ditinggal penggarapnya.

“Guludan”, kata dia, adalah salah satu inovasi teknologi tepat guna untuk menanam mangrove pada lahan yang tergenang air yang dalam, dengan cara membuat “guludan” cerucuk bambu dengan ukuran tertentu, dalam hal ini berukuran 4 meter (lebar) x 6 meter (panjang) x 2 meter (dalam).

Dikemukakannya bahwa “guludan” tersebut diisi dengan tumpukan karung berisi tanah di bagian bawahnya, yang kemudian diurug dengan tanah curah di bagian atasnya sedalam lebih kurang 50 centimeter yang berperan sebagai media tanaman.

Selanjutnya, anakan mangrove ditanam pada permukaan tanah tersebut dengan pola tanam dan jarak tanam tertentu –di mana jarak yang berdekatan akan lebih ideal–sehingga hasilnya akan lebih baik.

Jenis yang ditanam adalah “Rhizophora mucronata” dan “Avicennia spp” dengan jarak tanam 1 x 1 meter, 0,5 x 0,5 meter, dan 0,25 x 0,25 m pada tahun pertama (2005).

Ia menjelaskan, bahan-bahan yang perlu disiapkan sebelum membuat konstruksi “guludan” cerucuk bambu adalah bambu, karung plastik, tali kapal dan tanah urug.

Menurut Cecep Kusmana, penanaman mangrove dengan teknik “guludan” sebagai suatu alternatif solusi rehabilitasi mangrove pada tapak-tapak yang khusus diarahkan untuk penanaman pada lahan yang tergenang air yang cukup dalam (1-2 meter).

“Selama puluhan tahun, Kementrian Kehutanan dan Pemda DKI Jakarta kesulitan menanam mangrove di kawasan pesisir pantai, karena genangan air hingga kedalaman lebih dari 2 meter yang tidak pernah surut. Dengan teknik guludan yang mulai diterapkan sejak 2005, Alhamdulillah kesulitan tersebut dapat diatasi,” katanya.  (A035/M026)

Editor: B Kunto Wibisono

COPYRIGHT © 2012

Sumber: http://www.antaranews.com/berita/310305/ipb-hijaukan-kawasan-mangrove-pesisir-jakarta


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s