KNTI Langkat Tanam 25.000 Mangrove

Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) Kabupaten Langkat Sumatera Utara, tanam 25.000 batang mangrove di kawasan pesisir pantai Brandan Barat.

“Kami menanam mangrove dalam rangka hari keanekaragaman hayati,” kata Ketua Kesatuan Nelayan Tradisionil Indonesia Langkat, Tajruddin Hasibuan di Brandan Barat, kemarin.

Penanaman tanaman bakau tersebut sebagai bentuk upaya nelayan yang tergabung di dalam Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) untuk merehabilitasi hutan mangrove yang dikonversi menjadi perkebunan sawit di desa Lubuk Kertang, Kecamatan Brandan Barat, katanya.

Karena hutan mangrove yang ada ini kini terancam punah oleh perusahaan perkebunan sawit setempat yang melakukan perambahan hutan.

Aksi penanaman mangrove ini dilakukan kata Tajruddin Hasibuan, Presidium Nasional KNTI Regional Sumatera Utara, karena hutan mangrove yang ada kini hancur, dan ini berdampak terhadap penghidupan keluarga nelayan di Langkat dan daya dukung lingkungan.

“Kini sebagian nelayan terpaksa beralih profesi dan meninggalkan kampung halaman, untuk bekerja di tempat lain, hanya untuk mencari sesuap nasi buat kelangsungan hidup keluarganya,” katanya.

Disampaikannya bahwa hutan mangrove bagi nelayan merupakan pusat kehidupan, sumber daun nipah, kayu bakau, tempat berkembangnya ikan dan kepiting.

Rusaknya hutan mangrove berarti terancamnya sumber-sumber kehidupan mereka.

Berdasarkan data yang ada hampir 80 persen luasan hutan mangrove di Langkat telah dikonversi menjadi perkebunan kelapa sawit.

“Alih hutan bakau menjadi perkebunan sawit memperburuk daya dukung lingkungan dan berimplikasi terhadap sulitnya mencari mata pencaharian,” ujar Tajruddin.

Secara terpisah Sekretaris Jenderal Kiara Abdul Halim, mengecam minimnya peran negara untuk melindungi ekosistem hutan bakau yang penting bagi keberlanjutan sumber daya perikanan di pesisir.

Sampai saat ini konversi ekosistem mangrove di Kabupaten Langkat, pantai timur Provinsi Sumatera Utara terus terjadi dan sudah sangat masif tanpa ada upaya yang maksimal dalam rangka penegakan hukum untuk menindak pelaku serta aktor intelektualnya.

Untuk itu, pihaknya mendesak Menteri Negara Lingkungan Hidup untuk melakukan pengawasan lingkungan hidup terhadap ekosistem bakau yang telah dirusak oleh pengkonversi sawit.

Selain itu, Kepala Polri diminta menindak tegas pelaku perambah hutan bakau dan pengkonversi hutan bakau yang selama ini terjadi di Langkat, dari mulai kecamatan Secanggang, Tanjungpura, Gebang, Brandan Barat, Sei Lepan, Pangkalan Susu, dan Besitang.

Sumber: http://www.waspada.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=247288:knti-langkat-tanam-25000-mangrove&catid=15:sumut&Itemid=28

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s