Konservasi Budaya Jawa

PARA pragawati berlenggak-lenggok di atas catwalk menggunakan kebaya kutu baru di ajang Jakarta Fashion and Food Festival 2012 di Jakarta, pekan lalu. Kebaya yang populer di era 80 hingga 90-an tersebut memiliki daya tarik tersendiri di mata perancangnya, Era Soekamto.

Direktur Kreatif Iwan Tirta Private Collection itu telah menjadi ikon di dunia mode Indonesia. Kariernya di dunia fesyen Indonesia dimulai setelah dia lulus dari sekolah mode Lasallea Singapura pada 1996. 

Era mengembangkan merek fesyen pertamanya, Urban Crew. Label itu menyasar kaum muda perkotaan yang dinamis, juga menjadi merek pertama yang memiliki komunitas hasil bentukan aktivitas dan kampanye merek. 

Era bahkan telah menggeluti lini tersebut sebelum banyak desainer yang sadar perihal fesyen dalam arti industri. Hingga kini kita masih bisa menemui Urban Crew di beberapa butik dan pusat-pusat perbelanjaan premium di Indonesia. 

Di samping mengerjakan labelnya sendiri, di tahun yang sama Era juga bekerja mengembangkan setelan pria untuk Salim Textile Group. Pekerjaannya itu berlabel Exco and Foxton. Berkat keberhasilannya, pada usia 21 Era masuk dalam jajaran para perancang ternama Indonesia di Ikatan Perancang Mode Indonesia (IPMI). 

Mengajar

Tidak hanya itu, Era juga aktif mengajar sejak 1998. Pada 2004, ia mendirikan Indonesia International Fashion Institut (IIFI) bersama Poppy Dharsono. Dalam program yang berafiliasi dengan British Education Awarding Body (BTEC Edexel) ini, Era bertindak sebagai pendiri, direktur program, dan perancang kurikulum. 

“Sekolah ini dipersiapkan tidak hanya sebagai sekolah mode. Kita menekankan skill yang kuat dalam pendidikan, tapi tetap diintegrasikan dengan fesyen sebagai bisnis,” ujarnya kepada Media Indonesia, Jumat (18/5). 

IIFI yang belakangan berganti nama menjadi Poppy Dharsono School itu memiliki beberapa program, di antaranya fashion design, fashion merchandising, dan fashion journalism. “Para pelajar dipersiapkan untuk pendidikan fesyen dan kompetensi di dalam bisnis sekaligus,” ujar Era yang juga mengajar di Lasalle Jakarta selama sembilan tahun. 

Pada saat mendirikan IIFI, Era juga mendirikan sekolah kepribadian Excellence Image Building (Exib). Dalam proyek itu Era bertindak sebagai pendiri sekaligus perancang kurikulum. 

Prestasi dan karya silih berganti diraih. Ia juga kerap didaulat menjadi juri beberapa perhelatan penting fesyen di Tanah Air, di antaranya Mercedes-Benz Fashion award, Indonesia Young Designer Contest, dan Plaza Senayan Palm Award. 

Selain mengajar dan menjadi juri, Era juga menjadi konsultan fesyen. Ia menjadi konsultan untuk Wacoal Indonesia dan Brand Aid. 

Di 2004, Era menjadi managing director di fashion service company bentukannya, Urban Corp Indonesia, yang membawahkan tiga merek ternama yakni Urban Crew, Era Soekamto, dan Unique Indonesia. 

“Saya itu muda tapi tua,” begitulah komentar Era mengenai kariernya di bidang fesyen selama ini. 

Rekam jejak itulah yang lantas membuat Era digaet manajemen Iwan Tirta Private Collection (ITPC) sebagai direktur kreatif. Era menyambut tawaran ITPC dengan tidak melepaskan label-label yang dirintisnya sendiri. 

Budaya

Menjadi desainer di Iwan Tirta, menurut Era, merupakan salah satu usahanya mewujudkan cita-cita. Dari deretan karyanya, Era belakangan memang lebih banyak menghabiskan waktu untuk memproduksi produk fesyen yang berbau etnik Indonesia dengan dominasi motif-motif tribal terutama batik. 

Era menyebut ini sebagai panggilan. Dibesarkan dalam budaya Jawa yang kental menjadi salah satu inspirasi terbesar Era dalam mengabadikan motif di karya-karyanya. 

“Saya itu sejak kecil memang dididik kedua orangtua saya dalam budaya Jawa yang kental. Kedua orangtua saya aktif dalam kegiatan reservasi budaya Jawa. Setiap hari itu saya terbiasa mengawali hari dengan tabuhan gamelan. Kami juga pernah tinggal di Bali dengan suasana tradisionalnya yang sangat kental selama delapan tahun. Saya sadar hal inilah yang banyak memengaruhi karya-karya saya,” paparnya. 

Setelah kedua orangtuanya meninggal, Era bertekad melanjutkan usaha reservasi budaya Jawa ini melalui bidang fesyen. “Bukannya saya tidak tertarik dengan fesyen daerah lain di Indonesia. Saya baru-baru ini juga membuat tenun Badui. Tapi, budaya Jawa terutama batik memang belakangan menjadi concern saya untuk melanjutkan cita-cita kedua orangtua dalam praktik reservasi budaya Jawa sendiri,” kata dia. 

Dalam upaya mereservasi budaya Jawa, Era lantas bergabung di Yayasan Laskita Mardawa milik Kesultanan Yogyakarta. Dari situlah Era lantas dekat dengan keluarga Keraton Yogya. 

“Saya memang banyak bekerja sama dengan Mba Pembayun (Putri Sultan) di Laskita Mardawa,” ujarnya. 

Mengenai masa depan fesyen Indonesia, era mengaku dirinya cukup optimistis. “Di satu sisi memang kita tidak bisa menyaingi negara semacam China yang landasan etos kerjanya harta dibawa sampai mati. Orang Indonesia itu kan alon-alon asal klakon. Tapi kita punya kekuatan yang seharusnya tidak terduga yakni keuletan dan kreativitas,” tegasnya. 

Era juga menyayangkan banyak produsen fesyen yang terlalu berkiblat pada fesyen Barat. Padahal, menurutnya, para produsen itu semestinya sadar bahwa Indonesia ini bagian dari dunia internasional. 

“Yang namanya lokal kan bagian dari internasional. Sayangnya orang suka lupa itu, makanya lebih suka meniru produk luar ketimbang mengkreasikan hasil budaya sendiri,” ujarnya. Inilah salah satu yang melatarbelakangi Era dalam aplikasi karyanya. 

Untuk berkompromi dengan selera pasar, Era mengaku tidak memiliki trik khusus. “Trik khusus tidak ada. Kalau untuk yang produksi major, saya biasanya memang mengacu pada tren mode. Tapi kalau yang datang ke saya, tentunya saya lebih mendengarkan keinginan dan melihat psikologi klien, mode apa yang cocok untuknya,” ujarnya.(*/M-1) 

Rekam jejak

Pendidikan Fesyen 
2006 – Consultant and Public Relation PT Indonesia Wacoal 
2004 – Pendiri sekaligus curriculum designer sekolah kepribadian Excellence Image Building (Exib). 
2004 – Pendiri, curriculum designer, program director dari Indonesia International Fashion Institute kerja sama dengan British Education Awarding Body BTEC Edexel. 
2000 – Fashion consultant untuk Brand Aid consultant group, re-branding dari Korean fashion brand Ramses dan his gesture, juga Lingerie project for Wacoal. Menjadi pembicara beberapa seminar, lokakarya dan konferensi. Kebanyakan topiknya mengenai self branding, fashion fundamental in developing a self, creativity and business, entrepreneurship and creative intelligence. 
2000 – Juri beberapa kontes fashion, di antaranya Mercedes Benz Fashion Award, Indonesia young Designer Contest, Plaza Senayan Palm Award. 
1998 – 2005 Dosen fashion design dan fashion entrepreneurship. 

Karier Fesyen 
2004 – Menjadi pendiri sekaligus managing director dari fashion service company Urban Corp Indonesia dengan 3 brands dan 2 services division:
Era Soekamto – Pre a porte deluxe and culture line
Urban Crew – Fashion brand
Unique Indonesia – Hand artwork specialist
Urban Garmindo – Research, development, merchandising and production service.
Urban Chain – Research, development, merchandising and production services for kangaroo leather, apprehended buyers untuk beberapa negara seperti Australia, Kanada, dan Vietnam.
1996 – 1998 Mengembangkan brand untuk Salim Textile Group – Exco and Foxton
1996 – Menjadi fashion designer dan mendirikan fashion brand miliknya ‘Urban Crew’ yang menyasar konsumen muda.

Sumber: http://www.mediaindonesia.com/read/2012/05/05/321445/270/115/Konservasi-Budaya-Jawa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s