Sumbawa Barat Bidik Wisatawan

Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat, tampaknya serius membangun pariwisata. Biar wisatawan punya gambaran kepariwisatannya, dibuka Pusat Informasi Wisata di kompleks pertokoan obyek wisata Senggigi, Kecamatan Batu Layar, Lombok Barat.

Barapan kebo (balapan kerbau) yang biasanya dihelat warga di Sumbawa Barat dan Kabupaten Sumbawa, dipindahkan arenanya ke Dusun Melase–seputar Senggigi. Tidak tanggung-tanggung, 238 ekor kerbau (108 pasang) diboyong pemiliknya dari Sumbawa Barat untuk diadu di arena pacu–hamparan sawah sepanjang 75 meter.

“Kawasan Senggigi dipilih jadi tempat berpromosi, sebab telah menjadi jendela informasi dan publikasi bagi wisatawan. Juga mengimplementasikan program Master Plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia, yang meliputi NTB, Bali, dan NTT masuk Koridor V meliputi pengembangan pariwisata dan tanaman pangan,” ujar Bupati Sumbawa Barat, Zulkifli Muhadli, Sabtu (2/6/2012).

Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah NTB, Awanadhi Aswinabawa, menilai inisiatif Sumbawa Barat semestinya diikuti daerah lain di NTB. Apalagi, keberhasilan pembangunan pariwisata bukan dilakukan secara parsial, melainkan secara kolektif, dan dikeroyok semua pihak.

Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata NTB, Ahmad Fauzal menilai keberadaan gawe KSB itu sebagai dukungan nyata program Kunjungan Lombok-Sumbawa, yang menargetkan menjaring sejuta wisatawan tahun 2012. Tahun 2010, kunjungan wisatawan kurang lebih 800.000 orang.

Sumbawa Barat memiliki Pantai Jelenga berpasir untuk lokasi selancar, Goa Mumber yang dihiasi stalagmit pada dinding dan langit-langitnya, serta kolam di tengah goa. Permukiman Desa Mantar di atas bukit yang warganya berkulit albino yang jumlahnya selalu tujuh orang. Bila yang berkulit albino meninggal, diyakini akan lahir seorang bayi albino lagi.

Untuk mengundang ingin tahu turis, pihak Pemda Sumbawa Barat membidiknya melalui barapan kebo, digelar di kawasan Senggigi sebagai kiblat pariwisata NTB. Permainan rakyat ini mirip Mekepung di Jembarana, mengadu kecepatan kerbau berlari.

Barapan kebo dilakukan saat musim panen padi, itu berupa sepasang kerbau berpacu mendekati garis finis atau sakak (tiang kayu). Kerbau yang tercepat dan mampu merobohkan sakak dinilai sebagai pemenang. Di garis finis dan garis start (palepas) ada sandro (wasit) yang bertugas selaku wasit.

Sepasang kerbau balap dilengkapi aksesori di bagian wajahnya, dan noga (sebatang kayu sepanjang 2,5 meter berbentuk segi tiga) dipasang pada pundak hewan itu. Di bagian tengah noga ada kayu memanjang ke badan kerbau, dan bagian ujung kayu terdapat kareng (pijakan kaki) sang joki. Arena balapnya di areal sawah yang berisi air, menjadikan tanahnya becek dan berlumpur sepanjang 75 meter.

”Bagus, bagus,” kata Catherin, wisatawan asal Belanda. (KHAERUL ANWAR)

Sumber: http://travel.kompas.com/read/2012/06/16/10071935/Sumbawa.Barat.Bidik.Wisatawan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s