Usaha Perkebunan Mete Terus Meluas di Wonogiri

Usaha rakyat perkebunan mete di Wonogiri, Jawa Tengah, makin tahun makin meluas. Masyarakat makin menggandrungi tanaman ini, karena cara penanaman yang tidak membutuhkan dana dan tenaga, namun hasilnya sangat menolong dalam mengampu nilai tambah petani.

Kasman (60) warga Desa Mlokomanis, Kecamatan Ngadirojo, Kabupaten Wonogiri Senin (18/6/2012) mengatakan, dirinya sudah puluhan tahun menanam jambu mete. Namun masih sebatas di sekliling lahan pertanian miliknya. Begitu merasakan hasil dari buah mete, terus naik dari tahun ke tahun dan tidak pernah turun,

Kasman menambah tanaman pohon metenya. “Sekarang saya sudah memiliki sekitar 600 pohon, awalnya hanya sekitar 200 pohon,” katanya . Dalam harga gelondong (belum dikupas), Kasaman bisa menjual metenya RP 35.000 sampai Rp 40.000 per kilogram. “Kalau butuh bayaran anak sekolah mete itu jadi andalan kami,” kata Kasman yang menyatakan lebih gembira lagi jika hari Lebaran atau Natal, permintaan mete tinggi dan harganya pun naik.

Seorang pedagang pengumpul, Wardi , Warga Dusun Sanggrong, Mlokomanis menyatakan, permintaan mete memang terus meningkat, tidak pernah surut dari tahun ke tahun. Setiap harinya dia bisa membeli antara 2-3 kuintal mete gelondongan dari petani. Dia melakukan pengupasan sendiri dan menjual dalam bentuk siap goreng.

“Perkilogramnya saya bisa menjual Rp 70.000 mete siap goreng. Produknya bukan hanya dijual di Wonogiri tetapi juga daerah lain seperti Semarang, Surabaya, Jakarta dan lainnya,” katanya. 

Bu Dramo seorang pedagang bahan pokok di Pasar Kota Wonogiri menyatakan, dia menjual kepada pembeli Rp 80.000 per kilogram. Meski tidak sebesar dengan NTT, NTB, Selawesi Tenggara, mete Wonogiri dikenal manis dan gurih. Produksi per tahun bisa mengampu 70 persen dari permintaan mete di Jawa Tengah.

Menurut catatan dari dinas Pertanian Kabupaten Wonogiri, produksi mete di kabupaten itu rata-rata 7.200 ton per tahun dengan luas areal kebun 21. 685 hektar milik 14.934 kepala keluarga petani. Tanaman mete di Wonogiri memang khas. Artinya bukan merupakan area perkebunan luas milik pengusaha, namun lebih merupakan swadaya petani. Tanaman ini menjadi alternatif dari kerja mereka sebagai petani penggarap tegal yang menanam singkong, kedele, jagung dan sesekali padi.

Karena itu tanaman mete lebih di banyak ditanam di seliling pekarangan. Meskipun banyak pula petani yang menjadikan seluruh areal tegalannya ditanami pohon mete. “Produksi mete di Wonogiri memang kurang dibandingkan permintaan. Karena itu banyak pengusaha pengupasan mete yang mendatangkan dari luar seperti dari Sulawesi dan NTB,” kat Wardi pedagang pengumpul yang sudah terjun dalam perdagangan mete puluhan tahun.

Sumber: http://regional.kompas.com/read/2012/06/18/12083067/Usaha.Perkebunan.Mete.Terus.Meluas.di.Wonogiri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s