Dari “Kandang Ayam” Menjadi Hotel

KOMPAS.com – Daerah yang ingin menjadi daerah tujuan wisata, keberadaan penginapan yang terkelola dengan baik dan memenuhi standar kenyamanan bagi turis menjadi sebuah harga mati. Apalagi ketika daerah tersebut baru mengembangkan sektor wisatanya.

Kota Biak yang berada di Kabupaten Biak Numfor, Provinsi Papua, merupakan salah satu daerah tujuan wisata yang sedang berkembang. Beruntung, penginapan di kota ini bisa dikatakan baik dan memadai. Bahkan beberapa hotel memiliki standar pelayanan hingga fasilitas lumayan lengkap.

Aeorotel Irian merupakan salah satu hotel yang memahami pentingnya keberadaan sebuah penginapan untuk mendukung pariwisata. Letaknya dekat dengan Bandara Frans Kaisiepo. Aerotel menempatkan dirinya sebagai hotel bintang tiga di Biak.

Hotel ini merupakan hotel tertua di Biak. Dibangun pada tahun 1953, Aerotel Irian merupakan hotel peninggalan Belanda yang awalnya bernama KLM Hotel.

Dulu hotel ini menjadi tempat istirahat penumpang maskapai penerbangan Belanda, KLM Royal Dutch Airlines. Mereka yang harus transit seusai penerbangan panjang melintasi Samudera Pasifik.

Seiring perjalanan waktu, hotel ini kemudian terbengkalai. Kondisi ini menyebabkan turunnya popularitas hotel dan semakin sedikit yang menginap.

Melihat sisi sejarah dan desain bangunan yang unik, tidak salah jika kemudian hotel ini berusaha dipertahankan dan direnovasi. Pengelolaannya kemudian dipegang oleh PT Aero Wisata yang merupakan salah satu anak perusahaan Garuda Indonesia.

“Hotel ini dulu milik Belanda. Banyak yang menginap di sini, Lama kelamaan popularitasnya menurun dan mulai rusak karena biaya untuk renovasi tidak ada. Seperti kandang ayam sebelum direnovasi,” kata General Manager Aerotel Irian, Budi Irianto, Kamis (5/7/2012).

Tahun 2008, renovasi besar-besaran dilakukan. “Sambil menerima tamu kita juga melakukan renovasi. Kurang lebih memakan waktu satu tahun dan baru selesai pada Agustus 2009. Dari awalnya tidak ada kolam, jadi ada kolam. Kemudian kita berikan fasilitas seperti Wifi, meeting room, breakfast, hingga tempat karaoke,” jelas Budi.

Hotel ini memiliki 42 kamar tipe superior, 9 kamar deluxe, dan 1 kamar suite ini. Nuansa kayu menjadi dominan bangunan. Desain kuno terasa di setiap sudut hotel. Desain ini memang sengaja dipertahankan mengingat nilai sejarah yang ada.

“Khusus untuk kamar tipe deluxe dan suite, tidak terbuat dari kayu. Karena memang dua tipe tersebut baru ada setelah renovasi. Untuk kamar tipe superior memang desain awalnya dari kayu, itupun kita renovasi seperti memberikan shower air panas dan dingin, lalu LCD TV dan AC,” kata Budi.

Selain itu, tambah Budi, untuk deluxe dan suite sedikit berbeda pelayanannya. Misalnya breakfast, tamu mendapatkan food basket yang langsung diantarkan ke kamar. Selain itu fasilitas bathtub hanya ada di kamar tipe suite.

“Untuk kamar tipe superior kita kasih harga Rp 480.000 per malam, Rp 680.000 untuk kamar deluxe, lalu Rp 3,4 juta untuk tipe suite,” kata Budi.

Selain itu, pihak hotel juga menyediakan berbagai menu khas dengan nuansa Papua.

“Kita punya papeda, keladi tumbuk dan menu yang paling digemari itu ikan tuna bosnik. Bahkan banyak yang membawa menu ini untuk dijadikan oleh-oleh,” kata Budi.

Kini, hotel itu pun menjadi pilihan wisatawan ataupun tamu pemerintahan untuk menginap. Bahkan sejumlah acara seperti serah terima jabatan kerap dilangsungkan di sini.

Akses menuju tengah kota dari hotel ini relatif mudah. Tamu bisa menggunakan angkot ataupun ojek. Sementara untuk akses internet, tamu masih dikenakan bayaran, yaitu Rp 20.000 per jam atau Rp 50.000 untuk berlangganan selama 24 jam.

Sumber: http://travel.kompas.com/read/2012/07/28/08370380/Dari.Kandang.Ayam.Menjadi.Hotel

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s