Pemberdayaan Ekonomi lewat Usaha Batik

TIM Java Overland telah sampai di Kabupaten Pamekasan, Madura. Di kota yang terkenal dengan julukan gerbang salam itu, tim mengunjungi Pondok Pesantren (Ponpes) Miftahul Ulum Kebon Baru. 

Pondok pesantren yang terletak di Pamelaan, Pamekasan, Madura, itu didirikan pada 1970 oleh KH Muhammad Asyari Basyirudin. Awalnya, ponpes itu merupakan pengembangan dari Pesantren Miftahul Ulum Pangpen yang juga berada di Pamekasan. Semula, ponpes itu diperuntukkan khusus bagi santriwati. Karena tuntutan masyarakat sekitar, ponpes tersebut akhirnya juga menerima santri laki-laki. Saat ini jumlah santri laki-laki sekitar seperempat dari total santri. 

Selain pelajaran agama yang diajarkan di sore hari, para santri mendapat pelajaran formal di pagi hari. 

“Pendidikan formal diajarkan sesuai dengan kurikulum pemerintah. Diharapkan, para santri kelak menjadi pribadi-pribadi yang ‘berotak Jepang dan berhati Mekah’,” kata sang pengurus, H Muhammad Ali Wafa. 

Disadari, ponpes di masa kini dituntut untuk lebih maju dalam mengelola perekonomian mereka. Begitu pula degan Ponpes Miftahul Ulum Kebon Baru. Karena itu, ponpes tersebut memberdayakan para santri dan melatih jiwa kewirausahaan mereka dengan mengembangkan usaha pembuatan batik tulis. 

Usaha itu sekaligus untuk melestarikan batik sebagai bagian budaya lokal dan komoditas ekonomi utama Kabupaten Pamekasan. Batik tulis bahkan menjadi salah satu kurikulum wajib untuk siswa madrasah sanawiah (SMP) putri. Karena itu, hampir semua santri putri di ponpes tersebut menguasai teknik membatik, mulai pembuatan motif hingga pewarnaan. 

Batik karya para santri dipasarkan tidak hanya di koperasi ponpes, tetapi juga merambah ke beberapa pameran batik di dalam dan luar negeri. “Sebelum batik menjadi komoditas utama Pamekasan, pesantren ini sudah memulainya lebih dulu. Kain batik di sini berkualitas terbaik. Makanya batik di sini harganya mahal,” imbuh Ali Wafa. 

Lapangan Kerja

Melalui usaha batik tersebut, para santri tidak hanya menjadi sosok yang berilmu agama dan formal, tetapi juga menjadi pribadi yang mampu berkreasi melalui keterampilan membatik. Usaha itu juga bisa menjadi lapangan kerja bagi para lulusan. 

“Alumni bisa mengambil kain dari pondok, melihat motifnya di pondok, dan membatik di rumah masing-masing,” jelas Ali Wafa. 

Usaha batik itu pun menjalin hubungan antara pesantren dan masyarakat sekitar yang memiliki usaha batik tulis. Pengerjaan motif dan pembatikan dilakukan di asrama putri, sedangkan pewarnaan dilakukan warga di rumah mereka dengan sistem bagi hasil. 

“Kami tidak ingin ada jarak antara pesantren dan masyarakat. Dan membatik bisa menjadi jembatannya,” kata Wakil Pemimpin Ponpes Miftahul Ulum Kebon Baru Misbahul Munir. 

Ketua Pengurus Pusat Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Choirus Saleh Rasyid pun mengapresiasi pelestarian batik madura di ponpes itu. “Melalui usaha batik khas Madura, pesantren ini terus menjaga akar tradisi yang kuat,” ungkap Choirus Saleh. (*/H-3) 

Sumber: http://www.mediaindonesia.com/seagames/read/2012/08/14/130/263/9131/Pemberdayaan-Ekonomi-lewat-Usaha-Batik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s