Kemas, Juragan Pempek Beromzet Ratusan Juta

KOMPAS.com – Berawal dari usaha kecil-kecilan, Kemas Firmansyah sukses membesarkan bisnis pempek dengan brand Wongkito 19. Bisnisnya semakin menggurita lewat sistem kemitraan. Hingga saat ini, total gerai pempeknya sudah mencapai 92 outlet yang tersebar di kota-kota besar di seluruh Indonesia. Dari jumah itu, 89 gerai di antaranya milik mitra.

Dari usaha ini, omzet yang Kemas kantongi dalam sebulan mencapai Rp 500 juta. Bisnis pempek ini mulai dia rintis pada akhir tahun 2006. Selain alasan bisnis, lewat usaha pempek ini, ia juga ingin menunjukkan identitasnya sebagai orang Palembang.

Sebab, selama ini, Kemas melihat sebagian besar pedagang pempek bukanlah orang asli Pelembang. Padahal, pempek merupakan makanan tradisional khas wong kito galo, sebutan untuk orang Palembang. “Seharusnya saya juga berdagang pempek karena saya orang Palembang,” ujar pria keliharan 1971 ini.

Kemas akhirnya terjun ke usaha kuliner pempek dengan membuka outlet kecil di dekat rumahnya di daerah Harapan Indah, Bekasi, Jawa Barat. Berkat keuletannya mempopulerkan bisnis ini, dalam beberapa tahun, jumlah gerai pempeknya terus bertambah. Terlebih setelah ia menawarkan kemitraan di 2008.

Menurut Kemas, perkembangan usaha pempeknya berkat totalitasnya dalam mengembangkan usaha. Apalagi, sejak awal ia memang menyukai bisnis ini. Lantaran sudah suka, ia pun mencurahkan seluruh waktu dan pikirannya untuk membesarkan usaha ini. “Kalau berbisnis harus disukai dulu supaya maksimal,” katanya.

Kecintaan Kemas terhadap pempek sudah tumbuh sejak dia kecil. Ia mengaku, sejak kecil sudah terbiasa menyantap pempek karena ibunya suka membuat makanan tersebut.

Tidak hanya penyuka pempek, seiring usianya yang makin beranjak dewasa, Kemas pun mulai membuat pempek sendiri. Berbekal kemampuan itu, dia kemudian terjun ke usaha pempek.

Di awal merintis usaha, ia langsung memperkenalkan variasi pempek hasil racikannya, seperti pempek sosis, pempek kapal selam, pempek keju, dan panggang. Aneka pempek ini Kemas banderol mulai Rp 3.000 hingga Rp 14.000 per buah. “Salah satu favorit pelanggan adalah pempek kapal selam super,” ujarnya.

Lantaran pempek buatannya banyak punya penggemar, pada 2008 Kemas memberanikan diri menawarkan kemitraan. Baginya, sebuah usaha bisa berkembang jika ia bermitra dengan orang lain.

Dengan bermitra, maka sebuah brand akan semakin dikenal masyarakat. “Pebisnis harus punya banyak partner,” katanya. Selain menjalin kemitraan, Kemas juga memanfaatkan media online untuk memperkenalkan produknya dengan membuat website Wongkito 19.

Ia menugaskan pegawainya untuk memuat info-info terbaru terkait Wongkito 19. Alhasil, saban hari selalu saja ada informasi anyar di situs Wongkito 19. Dari sanalah bisnisnya terus berkembang. Tak cuma di Jabodetabek, mitranya ada di Bandung, Cirebon, dan Kalimantan.

Jatuh Bangun

Jiwa bisnis Kemas Firmansyah sudah terasah sejak kecil. Ia telah terbiasa berjualan sejak masih duduk di bangku sekolah dasar (SD). Sejak masih kelas satu SD, ia sudah berjualan martabak buatan ibunya. “Saya jualan martabak keliling kampung,” kata Kemas.

Naluri berdagang Kemas berlanjut saat ia mengecap bangku sekolah menengah atas (SMA). Ketika SMA ini, ia menekuni usaha pembuatan tatabahasa (grammar) bahasa Inggris. Tatabahasa itu dibuat dalam bentuk kalender, sehingga bisa ditempel di dinding dan memudahkan menghafalnya.

Kegiatan bisnisnya terus berlanjut. Ketika kuliah di Universitas Sriwijaya Palembang, ia berjualan jaket, celana jins, dan baju kepada teman-temannya. “saya memesannya dari Bandung,” ujarnya.

Lulus kuliah tahun 1995, ia sempat bekerja di beberapa perusahaan. Namun, naluri bisnis kembali memanggilnya. Tahun 2002, ia menanggalkan profesinya sebagai karyawan dan memilih terjun ke bisnis servis komputer di Bekasi.

Selain jasa servis, ia juga menyediakan komponen-komponen komputer. Namun, bisnis ini hanya bertahan dua tahun. Setelah menutup usaha ini, ia menggeluti bisnis baru, yakni, bisnis penjualan mobil. Kemas memulai usaha jual beli mobil baru dan bekas pada tahun 2004. Selama menggeluti usaha ini, ia sempat memiliki showroom sendiri di Bekasi.

Namun, lagi-lagi bisnisnya ini harus gulung tikar karena dilanda krisis. “Waktu itu, harga BBM (bahan bakar minyak) naik sehingga penjualan mobil turun drastis,”jelasnya. Saat menutup usaha ini tahun 2005, ia terjerat utang dalam jumlah besar. Untuk melunasi utangnya, ia terpaksa menjual rumah dan aset-aset miliknya.

Jatuh bangun di dunia bisnis tidak membuatnya jera. Kemas menilai, kegagalan itu bukanlah akhir dari bisnisnya. Tidak sampai satu tahun setelah menutup usahanya, Kemas bekerja di salah satu perusahaan otomotif di Jakarta sebagai sales marketing.

Di perusahaan itu ia bertekad untuk mengumpulkan modal sebelum terjun ke dunia bisnis lagi. Selama bekerja di perusahaan itu, pendapatannya lumayan besar karena berhasil menjual ribuan mobil.

Setelah uang tabungannya terkumpul lumayan banyak, pada tahun 2007 ia memutuskan keluar dan mendirikan bisnis pempek. Bisnis ini dirintisnya dengan modal awal Rp 20 juta.

Belajar dari pengalaman-pengalaman sebelumnya, ia pun bertekad untuk mengembangkan bisnis barunya ini.  Upayanya itu tidak sia-sia.Terbukti, total gerai pempeknya kini sudah mencapai 92 outlet yang tersebar di kota-kota besar di seluruh Indonesia.

Merambah Bisnis Lain

Kendati telah sukses di bisnis pempek, Kemas Firmansyah tetap rajin melihat peluang usaha lain. Kini, ia kembali merambah bisnis jual beli mobil. Sebelumnya, dia pernah terjun ke bisnis ini pada tahun 2004. Setahun berjalan, usahanya itu bangkrut. Namun, Kemas mengaku tak jera untuk kembali merambah bisnis jual beli mobil ini.

Hanya, saat ini dia belum memiliki showroom khusus jual beli mobil. “Jadi, saya jual mobil satu per satu langsung kepada konsumen,” kata Kemas.

Meski demikian, ke depan ia tetap berencana untuk membuka showroom mobil lagi. Untuk itu, Kemas akan mengajak beberapa investor. Dengan berkongsi, dia tidak akan sendirian mengelola bisnis ini.

Bila bangkrut, Kemas pun tidak akan menanggung kerugian terlalu besar. Jadi, risiko usaha ditanggung bersama investor. Menurutnya, sistem ini jauh lebih baik dibandingkan dengan membuka bisnis sendiri.

Selain kembali menggarap bisnis jual beli mobil, ia juga akan melebarkan sayap usahanya di bisnis makanan. Yakni, merambah bisnis makanan sehat khusus bayi dan anak-anak. Bila tak ada aral melintang, bisnis ini akan Kemas launching pada September tahun ini, dengan nama Super Barin Food.

Sejatinya, Kemas sudah merintis usaha ini sejak dua tahun terakhir dengan sistem katering. Kalau nanti sudah resmi diluncurkan, ia akan langsung menawarkan kemitraan usaha kepada investor yang berminat.

Kemas menjelaskan, makanan yang dipasarkan itu dia produksi khusus untuk memenuhi kebutuhan nutrisi otak bayi dan anak-anak. Makanya, ia mengklaim, pembuatan makanan itu tidak menggunakan bahan kimia. “Kami bikin kandungan gizi makanan ini tinggi dan berguna bagi kecerdasan anak-anak,” papar Kemas.

Selain makanan khusus bayi dan anak-anak, Kemas juga akan memproduksi makanan sehat untuk orang dewasa. Makanan ini dia klaim bisa memperkuat daya ingat seseorang. “Kami memiliki seorang dokter yang paham soal gizi makanan, sehingga produk makanan ini terjamin kualitasnya,” ujarnya.

Meski sibuk mengembangkan bisnis, Kemas tetap memilih bekerja di salah satu perusahaan otomotif di Jakarta dengan jabatan yang ia pegang saat ini: sales manager.

Kemas menuturkan, kecintaannya pada dunia otomotif membuatnya tetap memilih menjadi karyawan perusahaan otomotif. Sedang, usaha yang sudah dia rintis diserahkan pengelolaannya ke orang-orang profesional.

Ia hanya mengawasi dan memberikan masukan kalau ada yang tidak sesuai dengan keinginannya. Walau tetap bekerja di perusahaan otomotif, jiwa Kemas tetaplah seorang pengusaha.

Menurut Kemas, seorang pengusaha harus memiliki mental pantang menyerah terhadap segala kesulitan yang menghadangnya. “Sebab, setiap persoalan yang muncul, pasti ada jalan keluarnya,” katanya.

Seorang pengusaha juga harus berani melangkah agar bisnisnya bisa tumbuh. Tapi, ada kalanya pengusaha mengesampingkan pertimbangan rasional untuk meraih sukses. (Noverius Laoli/Kontan)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s